Hati manusia sering terombang-ambing antara dua jurang: kesombongan saat sukses dan keputusasaan saat gagal. Bagaimana cara menyeimbangkannya? KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menawarkan “obat hati” melalui pemahaman mendalam tentang konsep Qada dan Qadar (Takdir).
Berikut adalah rangkuman poin-poin penting dari penjelasan Gus Baha mengenai cara menyikapi takdir Allah SWT:
1. Resep Menghilangkan Kesombongan dan Penyesalan
Gus Baha menjelaskan bahwa cara termudah untuk menghilangkan sifat sombong adalah dengan menyadari bahwa segala capaian kita adalah desain Tuhan. Jika kita cerdas, itu adalah rencana Tuhan, bukan semata-mata karena ikhtiar kita. Sebaliknya, jika kita mengalami kegagalan atau kekurangan, tidak perlu menyesal berlebihan karena itu pun bagian dari rencana Tuhan.
Dengan meyakini bahwa segala musibah dan nikmat sudah tertulis di Lauhul Mahfuz sebelum penciptaan manusia, kita tidak akan terlalu berduka atas apa yang luput, dan tidak terlalu bangga atas apa yang kita dapatkan.
2. Memahami Qada dan Qadar sebagai “Ilmu Allah”
Gus Baha menyoroti perdebatan teologis klasik antara kaum Mu’tazilah dan Ahlussunnah. Kaum Mu’tazilah sering mempertanyakan: “Jika semua sudah ditakdirkan (ditulis), kenapa manusia masih disiksa/dihisab?”
Jawaban Ahlussunnah sangat cerdas dan menenangkan: Iman kepada Qada dan Qadar sejatinya adalah bentuk pujian kita kepada pengetahuan (Ilmu) Allah. Kita harus meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum kejadian itu terjadi (Ma kana wa ma sayakun).
Jika Allah baru tahu nasib seseorang setelah kejadiannya, berarti ilmu Allah terlambat. Tentu kita tidak ridha memiliki Tuhan yang ilmunya terlambat. Maka, mengimani takdir adalah bentuk pengakuan bahwa Allah Maha Tahu atas segala sesuatu yang akan terjadi.
3. Posisi Manusia sebagai Makhluk
Sebagai manusia (makhluk), kita tidak perlu terlalu memusingkan logika “mengapa ada neraka jika sudah ditakdirkan?”. Itu adalah hak prerogatif Tuhan. Tugas makhluk adalah bangga memiliki Tuhan yang ilmunya meliputi segala sesuatu.
Gus Baha mengutip riwayat Abdullah bin Umar yang menegaskan kerasnya hukum bagi mereka yang tidak percaya Qada dan Qadar. Bahkan jika seseorang bersedekah emas sebesar Gunung Uhud, amalnya tidak akan diterima sampai ia beriman kepada takdir Allah, baik yang buruk maupun yang baik.
4. Etika Ketundukan Total (Kisah Malaikat Jibril)
Gus Baha menceritakan kisah mengharukan tentang kerinduan Nabi Muhammad SAW kepada Malaikat Jibril yang lama tidak turun membawa wahyu. Ketika akhirnya Jibril turun, ia menjelaskan bahwa dirinya pun hanyalah makhluk yang tunduk total pada perintah Allah (QS. Maryam: 64). Jibril tidak bisa turun semaunya sendiri tanpa perintah Allah, meskipun ia sangat rindu kepada Nabi.
Ini mengajarkan kita tentang etika seorang hamba: tunduk, patuh, dan menunggu perintah Allah tanpa banyak protes, karena kita hanyalah pelaksana dari skenario-Nya yang Agung.
Kesimpulan
Inti dari mengimani takdir menurut Gus Baha adalah kenyamanan hati. Kita tidak perlu memprotes kehendak Tuhan dengan logika manusia yang terbatas. Cukup yakini bahwa kita memiliki Tuhan yang Maha Hebat, yang pengetahuan-Nya mendahului segala kejadian. Dengan begitu, hidup akan menjadi lebih tenang, jauh dari sombong, dan jauh dari putus asa.
